Connect with us
alterntif text

Feature

Kisah Pilu Tiga Orang Tua di Toraja. Diusir Anaknya, Kini Hidup Dari Belas Kasihan Orang Lain

Published

on

TORAJADAILY.COM, MENGKENDEK – Maria sudah tidak lagi kuat beraktifitas seperti kala dirinya muda dulu, Ia bahkan sudah tidak ingat angka kelahirannya. Wajar saja sebab, kini Maria sudah berada diusia lanjut.


Tubuhnya yang rentan berkeriput pula hanya mampu merawat Yunius Suaminya serta adiknya bernama Dorkas. Yunius menderita Stroke sejak tiga tahun lalu sementara Dorkas mengalami keterbatasan aktifitas akibat lumpuh.

Selama ini baik Yunius maupun Dorkas hanya menjalani pengobatan seadanya saja. Sebab, jangankan kartu Indonesia Sehat (KIS) atau BPJS, bahkan KTP saja mereka tidak punyai.

Maria menghuni bangunan petak kayu milik salah seorang kerabatnya yang berbelas kasih. Di dalam ruang 4×4 meter ini segala aktifitas dilakukannya termasuk memasak sekaligus ruang untuk tidur.

Lantas, apa Maria memiliki anak. Jika ada, mana Dia?

Saat Torajadaily.com menanyakan keberadaan anaknya, Maria terkejut lalu beberapa saat terdiam. Dia serasa disambar petir siang bolong.

“Tau ya nakamali bati’na, na kami dikka te tae bang (orang lain disayang dan dirindukan anaknya, tapi kami ini tidak sama sekali),” tutur Maria sedih sembari menghela nafas panjang.


Tak disadari Maria, air matanya pun jatuh membasahi keriput di wajahnya, kala menceritakan kemalangan hidupnya. Maria malang hanya memiliki dua orang anak saja. Satu sudah meninggal sementara satunya lagi berstatus Pegawai Negeri Sipil, tinggal bersama anak istrinya di wilayah Mandetek, Makale Utara.

“Sudah sembilan bulan lamanya tinggal disini. Kami diusir dari rumah anak kami” kenang Maria terisak.

Diungkap Maria, sama sekali tak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dari anaknya berikut keluarganya. Tak kuat lagi menerima perlakukan kasar, Ia lalu meninggalkan rumah.

“Tidak tahan, tengah malam saya keluar dari rumah. Tidak disangka, padahal sebelum menikah anak saya itu perhatian sekali kepada orang tuanya,” ujarnya lirih.

Terusir dari rumah anaknya tidak membuat derita Maria, Yunius dan Dorkas berakhir. Di tempat sekarang di Kelurahan Rantekalua, Kecamatan Mengkendek derita ketiganya malah kian bertambah.

Bagaimana tidak, untuk memenuhi kebutuhan makan saja harus menunggu uluran tangan orang lain yang berbelas kasih dan sudi membantunya. Kadang untuk menghilangkan rasa lapar mereka hanya memakan Talas.

“Mau tinggal sama keluarga tapi siapa yang mau terima dengan kondisi kami begini. Mau bagaimana lagi, syukur kalau ada yang kasihan,” jelasnya.

Diungkap Maria sejak berpisah sembilan bulan, anaknya itu pun baru sekali datang melihat kondisi Bapaknya “waktu hari Natal dan tahun Baru dia tidak datang,” ungkap Maria mengakhiri. (Atj)

Advertisement
Advertisement
alterntif text

Facebook

Trending